Blog

Januari 30, 2019

Faktor Yang Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Bakteri

Faktor Yang Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Bakteri

Faktor Yang Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Bakteri – Dalam pertumbuhannya, bakteri memerlukan kondisi lingkungan yang mendukung. Namun, bakteri dikenal sebagai organisme yang “cerdas”, dengan kata lain, bakteri memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi yang sangat tidak optimal bagi organisme lain. Tiap jenis bakteri memiliki karakteristik tersendiri dalam hal cara hidup dan tingkat kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Supaya bakteri dapat tumbuh dengan optimal, bakteri membutuhkan beberapa nutrisi dari sumber makanan, energi, dan kondisi lingkungan yang sesuai. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup bakteri.

1. Ketersediaan Nutrisi

Setiap bakteri memiliki kebutuhan nutrisinya sendiri-sendiri. Bakteri autotrof membutuhkan garam anorganik, karbondioksida dan air untuk pertumbuhannya. Kelompok jenis bakteri ini mensintesa karbondioksida menjadi metabolit organik esensial. Sementara, bakteri heterotrof membutuhkan karbon organik dari alam (misal glukosa) untuk tumbuhan dengan baik. Ada ratusan senyawa organik di alam yang bisa menjadi sumber karbon bagi masing-masing jenis bakteri yang berbeda.

Selain karbon, sejumlah ion anorganik dibutuhkan oleh semua bakteri, seperti nitrogen, sulfur dan fosfor yang terdapat pada senyawa biologik, serta magnesium, kalium, dan kalsium pada bakteri yang berhubungan dengan polimer anionik tertentu, dan lain-lain. Magnesium pada bakteri digunakan untuk menstabilkan fungsi ribosom, asam nukleat, dan membran sel, serta dibutuhkan dalam aktifitas enzim. Kalium digunakan untuk aktifitas enzim.

2. Ketersediaan Oksigen dan Karbondioksida

Oksigen dibutuhkan oleh bakteri aerob untuk respirasi dan reaksi enzimatik. Sedangkan pada bakteri aerob obligat dan aerob toleran, proses metabolisme oksigen menyebabkan terjadinya proses fermentasi.

Pada bakteri aerob fakultatif, metabolisme oksigen tidak menyebabkan proses fermentasi, melainkan reaksi enzimatik yang menghasilkan radikal peroksida dan hidrogen peroksida. Peroksidase ini dapat merusak H2O2 dan O2, sehingga bakteri dapat tumbuh dengan baik meskipun mengandung oksigen.

Karbondioksida menjadi sumber karbon utama pada bakteri fotolitotrof dan kemolitotrof, yang digunakan untuk proses fiksasi CO2 heterotrof dan sintesis asam lemak.

3. Temperatur yang Optimal

Tiap jenis bakteri membutuhkan temperatur atau suhu yang optimal untuk tumbuh. Setiap bakteri memiliki temperatur optimal dimana mereka dapat tumbuh dengan baik dan berkembang dengan cepat. Bakteri memiliki rentang temperatur sendiri supaya dapat membelah dengan baik dan menghindari kerusakan yang dapat terjadi akibat temperatur yang tidak optimal. Temperatur optimal bagi organisme lain biasanya juga merupakan temperatur yang optimal bagi bakteri. Bakteri patogen pada manusia tumbuh dan berkembang dengan baik pada suhu normal manusia, yaitu 37 derajat Celcius.

4. Derajat Keasaman (pH)

Bakteri memiliki rentang derajat keasaman (pH) tertentu supaya dapat tumbuh dengan baik. Pada bakteri patogen, rentang pH optimal adalah 7,2 – 7,6. Bakteri fermentatif memiliki rentang nilai pH yang tinggi daripada bakteri aerob fakultatif. Produk fermentatif yang dihasilkan bersifat asam, dan jumlahnya yang banyak dapat mengakibatkan ketidakseimbangan derajat pH. Namun, beberapa bakteri mengatasinya dengan menginduksi jalur metabolisme baru untuk menghasilkan butanol (Clostridium acetobutylicum) dan butanediol (Klebsiella aerogenes)

5. Kondisi Osmotik

Umumnya konsentrasi larutan yang aktif secara osmotik di dalam sel bakteri lebih tinggi daripada konsentrasi di luar sel. Sebagian besar bakteri, kecuali pada Mycoplasma, mengembangkan sistem transportasi kompleks dan pengatur sensor-osmotik untuk menjaga keadaan osmotik dalam sel tetap seimbang.

Jika kondisi osmotik tidak seimbang, bakteri akan mengalami kerusakan dinding sel. Pada Escherichia coli dan beberapa bakteri Gram-negatif, terdapat dua bagian cairan, yaitu sitoplasma pada membran dalam dan periplasma di antara membran luar dan membran dalam. Saat bakteri berada pada lingkungan dengan tingkat osmolaritas rendah, membran sitoplasma akan mengembang untuk mencegah perubahan osmolaritas di daerah periplasma.

Cara hidup berbeda-beda berdasarkan jenisnya. Mengetahui cara hidup bakteri dapat memberi kita pemahaman bagaimana mengendalikan dan mengambil manfaat sebesar-besarnya dari bakteri. Seperti yang sudah kita ketahui, peranan bakteri dalam kehidupan manusia cukup signifikan, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan.

Perlakuan yang salah akan menyebabkan perkembangan bakteri merugikan yang tidak terkendali, atau justru memusnahkan bakteri yang menguntungkan manusia dan mengganggu keseimbangan ekositem. Dengan mengetahui cara hidup bakteri dan perlakuan yang benar sesuai peran dan porsinya dalam kehidupan, bakteri bahkan dapat membantu mmemperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri.

JASA SERVIS MIKROSKOP | Kami akan memberikan layanan yang memuaskan terhadap mikroskop anda sehingga anda dapat melakukan pengamatan mikroskopis lagi tanpa harus membeli mikroskop baru. Selain itu kami juga dapat melayani jasa servis panggilan untuk mikroskop dan alat alat laboratorium lain sesuai dengan kesepakatan dengan anda selaku mitra kami. Hubungi kami KLIK DISINI | Telp : +62 857 2813 1277  | Email : sarionoppkl2013@gmail.com

Artikel , , , , ,
About Eni Nur Hidayati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jasa Servis Mikroskop

Kami akan memberikan layanan yang memuaskan terhadap mikroskop anda sehingga anda dapat melakukan pengamatan mikroskopis lagi tanpa harus membeli mikroskop baru. Selain itu kami juga dapat melayani jasa servis panggilan untuk mikroskop dan alat alat laboratorium lain sesuai dengan kesepakatan dengan anda selaku mitra kami.

Cart